Sudahkah kau rangkul ruh berkesenian yang sudah sekian lama terserak di surai debu debu waktu, tercecer di lecah bandang ...
Sudahkah kau rangkul ruh berkesenian
yang sudah sekian lama
terserak
di surai debu debu waktu,
tercecer di lecah bandang jalanan bopeng,
tersungkur di kaki matahari,
nyangkut pada resahnya rerantingan kering
yang
dipatah musim.
Ruh seni yang menjerit
di liang liang tak bercahaya,
bergentayangan di cakrawala jiwa.
Dimaki bulan latah dihanyutkan pasang keling
bersama sampah sampah plastik.
Meronta dalam geliat fatamorgana.
Sudahkah kau buatkan jasad berkesenian
tempat ruh bersarang
dan menelurkan gairah.
Berkepala dewa pawana berkepak meniti pelangi.
Jemari
saktinya mewarnai lazuardi.
Rentak kakinya menari di atas perut bumi.
Sudahkah kau besarkan dia
dengan puisi, mantra dan doa
semesta.
Dia kemaren hilang entah di rimba mana.
Gaungnya menakik
pilar-pilar retak
kangkangi jiwa mati suri.
Hangat angin kemarau di ubun-ubun kota,
membakar
pemberontakan tangan-tangan seni
yang mengayunkan belati harap ke perut
ideologi.
Berkubur gelisah tanpa keranda,
tonggak-tonggak nisan bertuliskan
sajak buram
di bawah bulan abu-abu.
Bangkitlah...!!!
Satukan kerangka retak yg terserak.
Teteskan darah seni agar tetap hidup
dalam kiprah berkaedah.
Menumbuhkan sayap-sayap di kepala.
Berkepak membelah cakrawala seni budaya.
(kutulis dengan tulus,
meskipun sebenarnya ketulusan itu
tak
bisa ditulis)

COMMENTS