🌺 ANUGERAH KEHIDUPAN Suatu anugerah terbesar dalam hidup saya datang dari keajaiban Sang Pencipta. Saya terlahir dari rahim seorang ibu ...
🌺 ANUGERAH KEHIDUPAN
Suatu anugerah terbesar dalam hidup saya datang dari keajaiban Sang Pencipta. Saya terlahir dari rahim seorang ibu luar biasa—Siti Bariah binti Iman Sumarto, perempuan lembut asal Solo, Jawa Tengah. Dengan benih cinta dari ayah hebat—Laode Abdul Rauf bin Laidi, pria tangguh dari Buton, Sulawesi Tenggara.
Tepat 30 September 1980, di Kota Dumai yang penuh berkah, tangis pertama saya bergema—kemudian hening, saat azan lembut ayah terlantun di telinga kecil saya. Saya adalah anak ke-5 dari 8 bersaudara. Nama saya: LD. Supriyadi.
🏡 RUMAH, KENANGAN DAN KASIH SAYANG
Saya dibesarkan di Jalan TegaLega, Komplek Perhubungan Laut II, sebuah lingkungan yang mengajarkan arti kekeluargaan sejati. Di sinilah cerita hidup saya mulai ditulis, dengan cinta, canda, dan kepedulian antarwarga.
Ayah saya adalah PNS Navigasi Laut. Setelah bertugas di Jakarta dan Tanjung Pinang, beliau dipindah ke Dumai. Di sinilah, tahun 1985 saya mulai bersekolah di TK Barunawati II. Setahun berikutnya, saya masuk SDN 004 Bukit Datuk.
Saya masih ingat jelas—banjir besar tahun 1989. Anak-anak lain dilarang bermain air, tapi saya, entah kenapa, selalu boleh ikut. Di atas rakit dari batang pisang, saya ikut hanyut dalam tawa. Mungkin karena saya menaruh hormat dan cinta pada semua yang lebih tua—dan mereka membalasnya dengan kasih.
🎒 JEJAK PENA REMAJA
Tahun 1993 saya masuk SMP Datuk Laksamana, lalu lanjut ke SMU Lancang Kuning tahun 1996 dan lulus di tahun 2000. Tak henti menulis kisah hidup. Tahun 2009 saya lanjut kuliah di Universitas Terbuka, jurusan PGSD.
Dumai mengantar saya mencintai seni. Di sinilah saya menemukan keberanian untuk tampil dan berkarya. Tahun 2000, di Gerai Yong Mude, Jalan Patimura, saya ikut festival lagu melayu se-Kota Dumai, menyanyikan “Fatwa Pujangga”. Prestasi pertama saya.
🎤 CINTA DAN PRESTASI
Setelah itu, saya terus menoreh prestasi di setiap festival, dari tingkat kota hingga provinsi. Saya mewakili Dumai ke Pekanbaru, Siak, Rohil, Rengat, dan lainnya. Bahkan di ajang Festival Syair se-Sumatra, saya tetap membawa pulang penghargaan.
Tahun 2013, saya tampil di Kenduri Melayu Sedunia (SeASEAN), menyanyikan lagu Dondang Sayang di Gedung Dang Merdu, Pekanbaru. Tidak lagi sebagai peserta, tapi sebagai tamu kehormatan. Sebuah kehormatan dari tanah kelahiran yang saya cintai.
🎶 BERNYANYI DARI HATI
Saya pernah ikut AFI 3 di Jakarta, lolos hingga 50 besar, lalu 20 besar, dan akhirnya gagal. Tapi saya tidak menyerah. Tahun 2009 saya rekaman dalam Album Bungsu, menyanyikan lagu ciptaan alm. Abdul Hamid—musisi legendaris Kota Dumai dan nasional—judulnya Petuah Melayu.
Saya bersyukur, dari hobi, bernyanyi menjadi sumber rezeki. Tapi di balik itu semua, ada sosok yang paling saya hormati—alm. Ayah saya, yang ternyata, bakat bernyanyi saya adalah warisan darinya.
🌿 KENANGAN YANG TAK LUPA
Saya tak pernah meminta uang pada orangtua saat ikut lomba. Takut kalah dan mengecewakan mereka. Bahkan saya tidak ingin mereka menonton. Saya ingin beri kejutan.
Tapi setiap pergi lomba, saya mencium pipi ibu, berkata, “Doakan ya, Mak...” Lalu pulang membawa piala, piagam, uang tunai, atau hadiah. Di situlah mereka tahu.
Lucu. Sedih. Haru. Bangga. Semua menjadi satu.
🕊️ PESAN UNTUK PEMUDA
Gali potensimu. Temui karaktermu. Jangan pernah berhenti. Jangan takut bertanya. Jaga etika. Hormati orangtuamu. Mintalah restu ibumu—karena di sanalah ridho Allah berada.
Semboyan saya dalam seni:
“Menghormati yang senior, menghargai yang junior, menjalin silaturahmi, dan menjaga etika kerja sama.”
Seni itu indah. Ia tempat meluahkan rasa, mencipta makna, menghidupkan jiwa.
🌸 MELAYU, JIWA DAN WARISAN
Lagu Melayu adalah cermin jiwa kita. Penuh petuah, pesan, dan cinta. Dumai punya banyak lagu Melayu yang indah. Mari kita hidupkan lagi—dengan ajang lomba antar RT, kelurahan, kecamatan hingga kota.
Musisi Dumai punya potensi besar. Mari duduk bersama dalam satu atap, satu payung: kebersamaan.
Saya bangga bersama DKD Kota Dumai 2020–2025. Wadah ini menyatukan kami—seniman muda dan senior, dari Dumai hingga mancanegara.
Kebersamaan itu indah.
"Jika bicara hati, maka tak ada kata berat untuk mengabdi. Karena seniman merasa bahagia saat berkarya dari hati."
DKD adalah rumah. Dan jika kita semua bersatu di bawah naungannya, saya yakin:
“Dumai akan jadi kota seni yang patut dibanggakan di mata dunia.”
—Supri





COMMENTS