3. Kandungan Isi Pantun Melayu Hakikatnya kandungan isi pantun Melayu adalah “tunjuk ajar” yang di dalamnya terdapat nilai-nilai luh...
3. Kandungan Isi Pantun Melayu
Hakikatnya kandungan isi pantun Melayu adalah “tunjuk ajar” yang di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur agama, budaya dan norma-norma yang dianut masyarakatnya. Penyampaiannya bervariasi, ada melalui kelakar, melalui sindiran, melalui nyanyian dan sebagainya, sehingga timbul anggapan bahawa pantun Melayu ada yang berisi tunjuk ajar dan ada pula yang hanya hiburan semata-mata. Padahal, bila disemak secara lebih menukik, apapun wujud pantun, tetaplah tidak terlepas dari nilai-nilai luhurnya. Namun memang ada yang tunjuk ajarnya terasa kental dan ada pula yang tersirat yang hanya dapat disemak oleh mereka yang memahami budaya Melayu atau oleh mereka yang memahami hakikat pantun Melayu.
Orang tua-tua mengatakan adat berpantun, pantang melamun, maksudnya dalam berpantun, dipantangkan menyalah atau menyimpang dan melanggar etika dan norma-norma sosial masyarakatnya. Isi pantun haruslah bersifat memberi ingat, tunjuk ajar dan nasihat tidak boleh memfitnah, merendahkan martabat orang lain atau menjatuhkan air muka orang, tidak boleh mengada-ada dan sebagainya yang bersifat negatif.
Di dalam ungkapan lain ditegaskan hakikat pantun menjadi penonton, maksudnya pantun hakikatnya menyampaikan petuah amanah, menyampaikan tunjuk ajar dan nilai-nilai luhur yang dapat jadi tuntunan masyarakatnya. Acuan ini menyebabkan orang Melayu berlaku hati-hati dalam berpantun. Mereka selalu mengingat ketentuan itu, sehingga apapun bentuk pantun yang diucapkannya, selalu mengandung nilai-nilai luhur, sekurang-kurangnya tidak menyalahi nilai-nilai agama, budaya dan norma sosial yang mereka anuti.
Di dalam pantun Melayu terdapat ilmu:
Ilmu dunia ilmu akhirat
Ilmu tersurat ilmu tersirat
Ilmu dipakai membawa manfaat
Ilmu disemak membawa berkat
Ilmu dikaji membawa rahmat
Ilmu dipegang hidup selamat
Di dalam pantun ada penuntun:Menuntun kepada yang berfaedah
Menuntun dengan syarak dan sunah
Menuntun dengan adat lembaga
Menuntun dengan amanah petuah
Di dalam pantun ada petunjuk:
Petunjuk kepada yang elok
Supaya badan tidak terpurukPetunjuk kepada yang baik
Supaya badan tidak terindik
Supaya badan tiada terjerumus
Petunjuk kepada yang berfaedah
Supaya aib tidak terdedah
Supaya hidup tidak tersesat
Di dalam pantun ada pengajar:
Pengajar kepada yang benar
Pengajar kepada yang betul
Supaya selamat dalam bergaul
Di dalam pantun tersimpan pesan:
Pesan tua untuk pusaka
Pesan muda untuk berjaga
Pesan ilmu untuk diramu
Pesan sunah untuk dimamah
Pesan syarak untuk disemak
Pesan adat untuk diingat
Pesan ibu untuk ditunggu
Pesan bapa untuk dibawa
Pesan saudara untuk dipelihara
Pesan sahabat untuk pengikat
Pesan berisi syarak dan sunahPesan berisi petuah amanah
Pesan diturut membawa tuah
Pesan dipakai membangkitkan marwah
Pesan diikut membangkitkan tuah
Di dalam pantun tersimpan adat:
Pertama adat sebenar adat
Kedua adat yang diadatkan
Ketiga adat yang teradat
Bila dikaji ilmunya dapat
Bila dipakai hidup selamat
Bila diikut tiada sesat
Bila diturut banyaklah berkat
Bila diamalkan hidup mufakat
Bila ditaati sengketa tak dekat
Bila difahami hidup bersifat
Bila disemak sentosalah umat
Di dalam pantun tersimpul amanah:
Bila disemak hidup bertuah
Bila dipakai hidup semenggah
Bila digenggam naiklah marwah
Bila dipegang membawa berkah
Bila diturut meluruskan langkah
Bila diikut membetulkan tingkah
Bila dijaga bercahayalah rumah
Di dalam pantun terkandung dakwah:
Menunjukkan orang ke jalan Allah
Menuntun orang kepada akidah
Menerangi orang dengan sunah
Meluruskan dari segala yang salah
Membaikkan dari segala yang menyalah
Membetulkan budi menghaluskan tingkah
Membersihkan hati melembutkan lidah
Di dalam pantun tersirat agama:
Menunjukkan jalan dunia akhirat
Menjauhkan orang dari maksiat
Membersihkan hati yang berkarat
Meluruskan akal yang tersesat
Membaikkan orang yang salah niat
Menghapuskan segala dengaki dan hasad
Mengikis segala perbuatan jahat
Supaya selamat dunia akhirat
Di dalam pantun ada ibarat:
Siapa menyemak maknanya dapat
Siapa faham beroleh berkat
Siapa arif mendapat manfaat
Siapa bijak hidup selamat
Di dalam pantun ada teladan:
Siapa menyemak mendapat pedoman
Siapa cerdik dapat pelajaran
Siapa pandai terbuka jalan
Siapa bijak mendapat sandaran
Di dalam pantun terkandung contoh:
Siapa menyemak hidup senonoh
Siapa memakai takkan bergaduh
Siapa meneladan takkan terkecoh
Siapa memahami takkan terjatuh
Siapa mengkaji takkan mengeluh
Selanjutnya, orang tua-tua menjelaskan pula tentang keberagaman pantun dan kandungan isinya dengan ungkapan-ungkapan antara lain:
Ada pantun “bersenda gurau”
Membuang gelabah menjauhkan risau
Siapa menyemak takkan meracau
Siapa memahami takkan mengacau
Contoh Pantun:
Pisau belati bertali pandak
Dititik-titik matanya hancurPisau belati bertali pandak
Risaulah hati berbini pekak
Awak berbisik dia tertidur
Sesaplah ladang berilah tandaSemaknya dapat dibuat suluh
Sedaplah orang berbinikan janda
Anaknya dapat disuruh-suruh
Kalahlah beruk bermain gasingKepala bengkak ditampar tupai
Sudahlah duduk kain tersingsing
Di bawa tegak seluar terburai
Sejak Belatuk pergi kahwinSiang malam Bayan meradang
Sejak beruk jadi pemimpin
Halal haram dimakan orang
Singapura dilanggar todakTodak melanggar sehari bulan
Orang tua-tua gilakan budak
Bagaikan beruk kena belacan
Besarlah rumah orang di teluk
Dilihat indah tempat bermain
Besarlah tuah si orang gemuk
Pangkat rendah disangka pemimpin
Leguh legah orang tadarusOrang tadarus pahalanya besar
Sungguh bertuah si orang kurus
Orang kurus seleranya besar
Besar puntung gesek bergesek
Nyalanya belum sampai sejengkal
Besarlah untung berhidung pesek
Kalau mencium sampai kepangkal
Ada pantun “sindir menyindir”Mengajak orang untuk berfikir
Supaya orang tidak pandir
Supaya ketiak tidak berlendir
Supaya hidup tak kena cibir
Contoh pantun:
Sejak pepuyu jadi almarhum
Banyaklah udang pergi menjenguk
Sejak penghulu jadi peminum
Banyaklah orang jadi pemabuk
Kerana tugal disangka antan
Banyaklah orang tidak ke ladang
Kerana bilal lupakan azan
Banyaklah orang tidak sembahyang
Sejak sepat mecari pepuyu
Banyak buaya naik ke pantai
Sejak mendapat bini baru
Banyaklah kerja tidak selesai
Berpucuk sudah berkuntum sudahTinggal berbuah saja yang belum
Berpeluk sudah bercium sudah
Tinggal menikah saja yang belum
Ada pantun “berkasih sayang”
Ajuk mengajuk dara dan bujang
Berbalas pantun mata bertentang
Di situ disukat lebih dan kurang
Di situ diukur pendek dan panjang
Di situ dikaji untung dan malang
Di situ ditengok muka belakang
Di situ melekat hukum dan undang
Di situ adat sama dipegang
Contoh pantun:
Naik turun orang ke balai
Bulan balik malam dan petang
Adik sepantun kembang setangkai
Hendak dipetik haram dipegang
Naik turun orang ke rumahBulak balik mengejar lalat
Adik sepantun kembang merekah
Hendak dipetik melanggar adat
Dzulkaidah bulan yang baik
Banyaklah orang berhelat jamu
Lemahlah badan mengenang adik
Hendak meminang adat tak tahu
Hendak memepah hari lah petang
Hendak berjalan malam lah larut
Hendak berpisah hati tak tenang
Hendak sepergian belumlah patut
Naik turun menjala ikanMemasang jala di siang hari
Adik sepantun cahaya bulan
Hilang kemana kan abang cari
Petang jumaat bawa mengajiSudah waktunya bawa sembahyang
Abang tak ingat kepada janji
Sesudah layu hamba dibuang
Adat disebut “pantun adat”
Pantun berisi pepatah adat
Pantun mengandung petuah nasihat
Pantun dipakai dalam helat
Pantun dikaji dalam musyawarah
Pantun dicurai mencari mufakat
Pantun dibilang mencapai sepakat
Isinya luas tiada terhad
Di situ undang sama disukat
Di situ hukum sama diangkat
Di situ pusaka sama diingat
Di situ soko sama di tingkat
Di situ umat menunjukkan adat
Contoh Pantun:
Adat kayu berdiri tegak
Tegak tinggi besar bertambah
Adat Melayu bersendi syarak
Syarak bersendi Kitabullah
Pahat mana yang kita pegangPahat besi bergagang kayu
Adat mana yang kita pegang
Adat jati orang melayu
Urat mana yang kita cencangUrat kayu di tengah laman
Adat mana yang kita pegang
Adat Melayu zaman berzaman
Kuat kayu bercabang besar
Pucuknya tinggi akar melilit
Adat Melayu dibentang lebar
Menutupi bumi dengan langit
Pucuknya tinggi akar melilit
Dahan menjulai berpucuk lagi
Menutup bumi dengan langit
Dalamnya sampai ke perut bumi
Ada disebut ‘pantun dakwah‘
Berisikan syarak beserta sunah
Berisikan petuah dengan amanah
Berisikan jalan mengenal Allah
Berisikan ilmu memahami akidah
Di situ disingkap benar dan salahnyaBerisikan ilmu memahami akidah
Di situ dicurai halal dan haramnya
Di situ dibentang manfaat mudaratnya
Di situ didedahkan baik buruknya
Di situ ilmu sama disimbah
Di situ tempat mencari tuah
Di situ tempat menegakkan maruah
Contoh pantun:
Adat orang berjalan malam
Membawa suluh jadi pedoman
Adat orang beragama Islam
Lidah senonoh hati beriman
Orang berkain menutup aurat
Sesuai dengan Quran dan hadis
Orang Muslim hidup beradat
Perangai sopan muka pun manis
Di bulan ramadhan orang puasa
Menahan selera mengekang nafsu
Orang beriman hidup sentosa
Kepada Allah tempat bertumpu
Elok kaki dapat melangkahElok tangan dapat memegang
Elok hati mengingat Allah
Elok iman tiada bergoyang
Kalau berlabuh pada yang tenangBila berhenti pada yang teduh
Kalau kukuh mengerjakan sembahyang
Di dunia terpuji di akhirat senonoh
Ada disebut “pantun tunjuk ajar”
Di dalamnya terhimpun tunjuk dan ajar
Ada syarak tempat bersandar
Ada adat tempat berkisar
Ada lembaga tempat manakar
Ada amanah menjauhi mungkar
Ada petuah membuang makar
Ada nasihat menghilangkan ingkar
Ada petunjuk ke jalan benar
Ada amanat memelihara sama sabar
Ada ibarat untuk didengar
Ada teladan untuk iktibar
Contoh pantun:
Mengapa sibuk orang di Pekan
Orang membeli sambal ketupatMengapa sibuk orang di Pekan
Buah yang mabuk usah dimakan
Batang berduri jangan dipanjat
Apabila kaki bertumbuk langkahSurut kembali ke pangkal jalan
Apabila hati kemaruk serakah
Duduk berdiri ditinggalkan kawan
Apabila pelita tidak bersumbu
Mana kan dapat dibuat suluh
Apabila kepala tidak berilmu
Mana kan dapat hidup senonoh
Mengapa banyak lalang tumbuhKerana tidak berladang padi
Mengapa banyak orang bergaduh
Kerana tidak mengenang budi
Kalau hendak memilih kainPilihlah kain bertapak catur
Kalau hendak memilih pemimpin
Pilihlah pemimpin berakhlak jujur
Dari uraian di atas terlihat betapa beragam dan bervariasinya kandungan isi pantun Melayu. Namun, sebagai inti dari keseluruhan kandungan isinya, tetaplah mengakar kepada syarak dan adat. Apapun bentuk dan jenis pantunnya, nilai agama, budaya, dan adat serta norma-norma sosialnya tetap ada. Orang tua-tua mengatakan bila pantun tidak mengandungi nilai luhur, samalah artinya dengan meracau atau merapik atau menyalah. Melalui ungkapan dikatakan:
Kalau pantun tidak bernilai
Mulut berbuih tak ada memakaiSiapa berpantun tidak berbudi
Tanda dirinya bususk pekerti
Siapa berpantun tidak senonoh
Hatinya kusut fikiran keruhSiapa berpantun menyakitkan hati
Hatinya busuk fikiran dengki
Hatinya busuk akal pun kurang
Setambun anak-baranak
Sisiknya lendir berlendir
Minta ampun kepada orang banyak
Pantun kami sindir menyindir
Selanjutnya dalam bagian penutup upacara disampaikan pula “pantun penutup” yang antara lain berbunyi:
Kuala Daik airnya tenang
Di sana biduk menambatkan tali
Mana yang baik bawalah pulang
Bila buruk tinggalkan kami
Menurut orang tua-tua Melayu, “pantun pembukaan” dan “pantun penutup” isinya permintaan maaf seandainya di dalam melaksanakan upacara atau kegiatan itu terdapat kesalahan, baik di sengaja ataupun tidak. Selanjutnya, pantun itu memberi tahu kepada seluruh yang hadir bahawa antaranya mungkin sahaja timbul pantun yang sifatnya sindir menyindir atau kelakar dan sebagainya. Dengan diucapkannya pantun pembukaan dan kemudian ditutup dengan pantun penutup maka segala kesalahfahaman, atau kekeliruan yang terjadi dalam upacara atau kegiatan itu supaya dimaafkan, dan tidak menjadi silang sengketa atau dendam kesumat. Ketentuan ini secara turun temurun sudah difahami oleh orang Melayu.
Kalaupun nantinya ada yang tersalah cakap, tersalah sebut atau tersalah bawa, sudah dimaklumi oleh yang hadir, dan tidak dimasukkan ke dalam hati. Orang tua-tua mengatakan: “kalau sudah meminta ampun, hilang segala dosa berpantun”.
Dalam ungkapan lain ditegaskan pula kewajipan menyampaikan maaf sebelum dan sesudah acara berbalas pantun dilakukan. Ungkapan itu mengatakan antara lain sebelum berpantun, jari disusun; sesudah bermadah, luruskan sembah.
Baca Juga :
Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu - 1
Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu - 2
Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu - 4
Baca Juga :
Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu - 1
Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu - 2
Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu - 4

COMMENTS